Jalan Jalan Sehari di Kota Kerang Tanjung Balai

23 comments
Niat naik kereta api dengan rute yang sedikit jauh akhirnya tercapai. Aku bersama seorang teman yang merangkap jadi tour guide nantinya, berangkat menuju Tanjung Balai dengan kereta api lewat stasiun Bandar Khalifah, Tembung. Kami ambil tiket yang jam 07.50 pagi, harga Rp.27.000. Sempat hampir terlambat karena ga ada gojek sepagi itu, untungnya sang 'kembaran' mau ngantar walaupun masih agak ngantuk.

makan kerang di kota Tanjung Balai

Masuk di Kereta, ternyata gerbong tempat kami duduk ini beda dengan yang biasa aku naiki ketika ke Binjai. Ada colokan dan tempat duduknya ada yang untuk tiga orang. Perjalanan memakan waktu hampir empat jam. Selama perjalanan, sesekali dari PT KAI lewat menjajakan makanan, kami pun coba siomay dari Es Teler 77.

Cukup bosan juga karena ga bisa internetan mengingat Bolt yang masih belum bisa dibawa terlalu jauh dari Medan dan akhirnya pun aku tidur.

pasar di Tanjung Balai

Sekitar jam 12 kurang kami sampai di stasiun Tanjung Balai. Tukang becak pun menyerbu di pintu keluar menawarkan jasa. Lokasi stasiun terletak tepat di depan pasar, jadi tidak sulit untuk mencari angkutan umum.

Setelah duduk duduk sebentar memandangi pasar, kami pun naik becak motor aka betor untuk ke rumah keluarga si tour guide ini dengan ongkos Rp.25.000 karena agak jauh. Becak motor di Tanjung Balai beda dengan yang di Medan, disini becaknya lebih besar dan tidak terlalu tertutup, enak rasanya kenak angin dan bebas melihat kiri kanan, tapi sepertinya bakal basah kuyup kalau lagi hujan, eh tapi bisa aja wak becak udah sediain penutup anti hujan.

Becak motor di Tanung Balai
Becak motor di Tanjung Balai
"orang ini ngomong bahasa apa? Batak ya?"
'Melayu la'
"pantas la, aku kira Batak, tapi aku bingung kenapa aku ga ngerti sama sekali" ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…
'iya, disini logatnya memang ada tecampur sama Batak'


Jembatan sungai Asahan Tanjung Balai
Enak kenak banyak angin

Rumah si teman ini di Sungai Pasir, cukup jauh juga dari pusat kota. Kami melewati sungai terpanjang di Sumatera Utara, Sungai Asahan. Sampan sampan pun terlihat berlalu lalang, di salah satu sisi terlihat kumpulan sampan yang aku kira itu pasar terapung. Setelah melewati jalan yang sebagian belum diaspal, sedikit becek, dengan sungai sungai kecil yang agak kering tapi selalu ada sampan disana, kami pun sampai di Pasir Putih.

"ini kenapa la ada sampan di sungai kecik gini, emang bisa lewat? hampir ga ada air lagi"
'ini karena masih siang, nanti mulai sore udah pasang, baru malamnya orang sini pigi nangkap ikan'
"emang bisa jalan sampannya? Ini sungainya kecik, sampannya besar kali gini"
'ko tengok aja la nanti'
๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

Makan siang di Tanjung Balai
Kerupuk ikannya enak!
Teringatnya, selain cuma untuk jalan jalan, aku diajak ke Tanjung Balai juga untuk melihat langsung yang mana sebenarnya bubur pedas dan cara membuatnya. Ini gara gara tulisan ku sebelumnya tentang bubur anyang yang aku kira bubur pedas. Jadi, sebagai orang Melayu yang tahu bubur pedas itu aslinya yang gimana, siang itu aku dapat kelas belajar memasak bubur pedas

Sungai Pasir Tanjung Balai
ayamnya malu diliatin terus lagi makan
Bubur Pedas (dibaca buburkh pedas) merupakan makanan khasnya orang Melayu. Kalau biasanya bubur itu nasi yang kental, bubur pedas justru ga ada nasinya, kalaupun ada cuma sedikit beras yang nantinya digongseng di jadikan bumbu. Karena menggunakan bahan yang banyak dan pembuatannya cukup merepotkan, sekarang jarang ada yang memasak bubur pedas. Kalaupun ada, biasanya langsung masak banyak untuk sekalian untuk dibagikan ke tetangga.


Masak bubur pedas di Tanjung Balai
semua bahan Bubur Pedas sebelum dimasak

Bubur pedas berisi berbagai sayuran dan umbi seperti jagung, kacang panjang, kentang, ubi, kacang ijo, dan lainnya. Menurutku rasanya sama sekali ga pedas. Bubur pedas biasa dinikmati sebagai sayur kawannya nasi.

Setelah siap memasak dan menikmati bubur pedas, kami antar sebagian kemudian pergi keliling ke kota dengan motor. Kami melewati taman Sudirman yang penuh dengan bunga dan tanaman hijau kemudian singgah sebentar di Lapangan Sultan Abdul Djalil Rahmadsyah. Lapangan yang besar memiliki 'pentas di bagian tengah ujung. Dilihat dari depan, sisi kiri ujungnya dipenuhi pedagang kaki lima yang mulai berjualan di sore hari, sisanya digunakan untuk berolahraga.

Lapangan Sultan Abdul Djalil Rahmadsyah Tanjung Balai
Lapangan Sultan Abdul Djalil Rahmadsyah

Sekitar jam 7 malam kami mulai mencari tempat makan karena perut sudah lapar. Kami pun tertarik untuk singgah di salah satu Cafe yang kelihatannya cukup ramai, Micro Cafe. Sesampainya di dalam, sepi, hanya satu meja yang terisi. Loh? Tapi di depan banyak kreta yang parkir? Ah sudahlah, mungkin itu kendaraan para karyawan. Sebelum duduk, kami diberi nomor antrian. Tempatnya sepi gini dan mau makan masih pake nomor antrian?

Micro Cafe Tanjung Balai
Micro Cafe

Micro Cafe merupakan satu dari beberapa cafe yang masih bisa dihitung dengan jari di Tanjung Balai. Cukup luas dengan meja dan kursi kayu disertai beberapa permainan yang bisa kamu mainkan bersama teman seperti uno. Setelah memilih tempat duduk yang pas, waitress datang dan memberikan buku menu. Selagi si teman milih, aku pun bertanya
"mas, ini nomor antriannya untuk apa ya?"
'itu antrian kalau mau karaoke, mbak'
"oohh, makasih, mas"

Sambil menunggu pesanan, terlihat beberapa orang datang dan langsung berjalan ke arah dinding yang ada wallpaper dan membuka pintu yang awalnya aku kira cuma gambar. Sepertinya karaoke ada di lantai 2

Kami pesan Pancake Durian, Ice Cream Goreng, dan kopi. Agak bingung juga ketika mau mesan kopi yang diseduh manual. Semua disebut kopi Vietnam dan sepertinya waitress disini kurang mengerti dengan apa yang kumaksud. Akhirnya biar ga ribet, aku bilang kopinya diseduh dengan alat yang kutunjuk (v60). Kopi datang satu set dengan V60. Ha? Apa nyeduh nya langsung di meja customer ya?

seduh manual di Micro Cafe Tanjung Balai
Seduh manual v60

V60, ceret,  dan dua gelas diletakkan di meja. "ini, seduhnya seduh sendiri mas?"
'... Bisa juga mba kalau mau diseduhin'
Sebenarnya masih belum terlalu ngerti, tapi yaudah lah, seru juga disini bisa seduh sendiri mengingat pernah beberapa kali nyeduh dengan V60
"hhmm, kami seduh sendiri aja deng"



Karena agak jauh dan jalan menuju Sungai Pasir lumayan becek, kami pun ga bisa terlalu lama disini. Setelah melewati sungai Asahan dan masuk ke jalan yang belum diaspal, tantangan menuju ke rumah pun muncul, jalanan gelap gulita, tanpa lampu jalan, ditambah lampu depan kreta yang lagi kurang bagus. Cahaya cuma ada ketika ada motor di depan atau belakang kami.
"eh, cemana ini? Ga nampak sama sekali dunia"
'tenang, win. Bisa ini pelan pelan'
"atau, aku idupin aja senter dari hp? Manatau agak bisa"
'coba la'

Aku nyalakan senter dari hp dan ga nyangka terangnya sama dengan lampu motor, atau mungkin karena jalan yang teralu gelap.

'kalau kurang rasamu, pake la satu lagi hpku'
"siap!"

Sungai Pasir Tanjung Balai
versi terang dan udah kering dari becek
Jadi, sepanjang jalan yang gelap gulita, tangan ini pun dijadikan senter. Kami sempat berpapasan dengan seorang bapak bapak yang mengendarai motor dengan lampu depan yang mati total.

"sungguh kuat bapak itu ya, becek sama gelap bukan masalah sama dia".

Setelah sampai, kami makan malam dengan bubur pedas dan satu lagi, makanan wajib di Tanjung Balai sebagai kota Kerang, apalagi kalau bukan Kerang. Harga kerang murah disini dan malam itu cukup banyak juga kerang rebus yang kami makan.

Bubur Pedas Tanjung Balai
makan malam dengan buburkh pedas

Besoknya, sekitar jam 10 pagi kami pamit pulang dan dengan becak motor kami ke loket bus untuk melanjutkan perjalanan ke Kisaran. Terima kasih banyak Tanjung Balai!